Lantun Orchestra : Inovasi Musik Betawi Masa Kini

0
407
Lantun Orchestra, foto: https://lantunorchestra.com

Memperkenalkan kembali musik tradisional pada era millenial seperti sekarang ini rasanya memang agak susah apabila tidak bisa mengemasnya dengan baik. Dengan kehadiran industri musik yang saat ini lebih mengarah kepada dunia digital membuat musik tradisional terasa ‘terpinggirkan’ atau bahkan diambang kepunahan.

Chaka Priambudi  sepertinya sangat menyadari hal ini, seorang musisi sekaligus komposer dibalik terbentuknya Lantun Orchestra. “Jadi, Lantun Orchestra itu didirikan pertama kali pada tahun 2014 dengan ide gue (Chaka Priambudi, red). Gue punya ide agar lagu-lagu daerah khususnya yang berkembang di Jakarta agar tidak sampai dilupakan oleh generasi muda saat ini. Dan Lantun Orchestra ini merupakan gagasan gue bersama dengan musisi lain,” ujar Chaka ketika diwawacarai oleh Indie Jakarta.

Berawal dari ide sederhana membuat versi cover dari karya-karya Seniman musik di masa lampau seperti Ismail Marzuki, Bing Slamet, Benyamin Sueb, Lilis Surjani, Oslan Husein. Kemudian dilanjutkan Pada tahun 2014 Lantun Orchestra merekam sebuah  demo berisi 5 lagu diantaranya Keroncong Kemayoran, Surilang, Jali-Jali, Dayung Sampan, dan satu lagu original yang diisi oleh maestro gitar jazz Oele Pattiselanno.

Kolektif bermusik yang beranggotakan 8 orang musisi ini ternyata sudah merilis sebuah album penuh pada tahun 2017 lalu dengan  berisikan 7 komposisi orisinil karya seorang Chaka Priambudi dimana keseluruhan lagu tersebut direkam secara live recording yang melibatkan 17 orang musisi profesional.

Sedang untuk masalah jam terbang, kurun waktu selama 2014 – 2016 Lantun Orchestra telah menjajaki beberapa panggung musik, konser, stasiun TV & Radio, dan festival. Dan berita gembiranya terakhir di tahun ini. Tepatnya tanggal 11 – 13 Mei lalu mereka terpilih untuk menampilkan karya terbaiknya dalam Seoul Music Week 2018 – International Showcase yang akan berlangsung pada tanggal 11 – 13 Mei 2018, di Sejong Performing Arts Center Seoul, Korea Selatan.

Seperti apa sih kolektif bermusik yang dinamakan Lantun Orchestra ini? Terutama dalam hal memperkenalkan kembali musik tradisional khas Betawi. Berikut adalah petikan wawancara kami bersama mereka:

Jadi Lantun Orchestra ini seperti memperkenalkan kembali musik khas betawi dengan nuansa yang lebih fresh ya?

Musik betawi seperti yang kita ketahui sudah memiliki keragaman di setiap elemen bunyinya, Chaka merasa ini akan menjadi suatu hal menarik jika musik tersebut mampu beradaptasi bahkan mampu bersaing dengan tren musik yang ada sekarang. Namun untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan inovasi dalam konsep pertunjukan, baik dari segi aransemen musik hingga kostum yang kami kenakan. Dari segi publikasi,kami memanfaatkan media sosial dan ternyata cukup efektif untuk membantu menyebarluaskan informasi yang kami sajikan.

Seperti apa tanggapan kalian mengenai musik daerah khususnya Betawi?

Musik daerah sangat banyak sekali ya, di setiap propinsi di Indonesia memiliki keunikannya masing-masing. Kami melihat musik tradisional itu sesuatu yang perlu dilestarikan, Namun penting juga adanya kreasi/karya cipta yang baru yang menyesuaikan jaman. Sebagai contoh, Kami menyajikan lagu-lagu baru seperti Pecinan, Kutunggu Kau di Salemba, juga Warung yang ada di album Lantun Orchestra, disamping itu kami tetap membawakan lagu-lagu betawi untuk acara seperti ulang tahun Jakarta, Pernikahan adat betawi, dan juga Festival.

Apa saja sih latar belakang para personil Lantun Orchestra?

Chaka (band leader) Associate Degree of Music Institut Musik Daya Indonesia, Produser Musik Tata (Vokal), sarjana seni vokal kontemporer lulusan Australian Institute of Music Achi (violin) Sarjana seni SSOM,violinist & film composer Indri (flute) Sarjana seni lulusan Boston University, Music educator . Edo (Bass) sarjana seni lulusan Sekolah Tinggi Musik Bandung ,indenpen bassist & drummer Kabul (Kromong) sarjana seni Universitas Negeri Jakarta, wirausaha studio rekaman. Cucu Kurnia (Kendang) seniman dan pengajar musik tradisional Rigen (Trumpet) sarjana seni sound design UPH, Sound engineer, pengajar trumpet.

Influence dari masing – masing personil?

1. Chaka: Horace Silver, Ismail Marzuki, Arnold Schoenberg
2. Tata : Joni Mitchell, Chet Baker
3. Achi : Alexandre Desplat, Guruh Soekarno Putra, Sara Bareiles
4. Indri: John Williams, Lin Manuel Miranda, Pentatonix, Pasek & Paul, Bruno Mars
5. Rigen: Chris Botti, Till Brooner, Rick Braun
6. Edo: Dave Weckl, John Pattituci, Dave Grusin.
7. Cucu: Frank Zappa & Dream Theatre
8. Kabul: Bob Marley, Benny Greb

Sejak 2014 kalian sudah memiliki satu album penuh, seperti apa prosesnya?

Proses pengumpulan materi lagu memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Sejak maret 2016 kami mulai merekam satu komposisi instrumental karya saya yang berjudul Topeng Monyet di studio milik Otti Jamalus. Kemudian pada Juni 2017 disusul 6 lagu berikutnya yang dikerjakan dan direkam live di studio ARTSOUND. Setelah proses mixing dan mastering selesai , kemudian kami distribusikan via label Demajors.

Kesulitannya apa sih dalam membuat lagu khas betawi itu menurut kalian?

Kesulitan yang dialami karena minim referensi baik berupa rekaman maupun literatur, kami mulai dengan membuat versi cover beberapa karya yang populer seperti milik Benyamin Sueb, Lilis Surjani, Bing Slamet semuanya memiliki kesamaan yaitu mereka merespon tren musik pada jamannya dengan membuat rekaman lagu orisinil . Mereka juga dikenal dengan ciri khas logat mereka yang jenaka sampai saat ini masih dijadikan sebagai benchmark musisi-musisi tradisional betawi. Nah berbekal hal tersebut kami mencoba merespon beberapa kondisi dimana musik betawi sudah saatnya ada inovasi baru tanpa mengesampingkan ‘pakem’ yang sudah ada di musik tradisional. Kami mulai menggabungkan pengetahuan harmonisasi musik jazz dengan irama gendang betawi, keduanya memiliki kecocokan lalu selebihnya adalah gabungan elemen bunyi dari beberapa ensemble musik tradisional betawi.

Bicara betawi juga bicara akulturasi budaya (arab dan tionghoa). Tanggapan kalian dalam mengawinkan keragaman tersebut?

Sebetulnya bukan cuma Arab dan TiongHoa, Pengaruh Eropa pun masih terlihat dari penggunaan alat musik orchestra seperti trumpet, trombone, sausaphone, clarinet dan drum yang biasa kita kenal sebagai orkes Tanjidor. Ada juga musik Samrah yang terpengaruh budaya melayu dengan penggunaan alat musik accordion, biola, gitar/oud dan gendang. Adapun musik Gambang Kromong yang mirip dengan orkes gamelan yang umum dijumpai di pulau jawa, bedanya mungkin dengan adanya penggunaan alat musik gesek Tehyan & Kongahyan khas musik tradisional cina. Dari beberapa sumber referensi dan riset terhadap sejarah musik , akhirnya saya menemukan adanya kesamaan dari setiap bentuk ensembel tersebut yaitu bentuk penetrasi budaya dari setiap bangsa yang pernah menjadi pemerintah di jakarta, baik jaman kesultanan hingga jaman kolonial belanda. Setiap bangsa tersebut meninggalkan jejak budaya yang membaur dengan kehidupan masyarakat betawi.

Ceritain dong soal bisa main di Korea kemarin?

Lantun Orchestra mendapat tawaran tampil tersebut dari Wartajazz, Kami terpilih menjadi salah satu dari 20 delegasi yang berhak tampil di Seoul Music Week yang diikuti 180 peserta showcase dari seluruh dunia. Untuk mengikuti kegiatan ini tentunya kami mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang dan hal itu membutuhkan waktu 1 tahun untuk proses keseluruhan baik dari segi pendanaan, publikasi, hingga konsep pertunjukan. Grup kami adalah satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang mengusung warna musik BetawiJazz dan kami bersyukur sekali bisa tampil dua kali yaitu di National Museum of Korea dan juga di Sejong Performing Art Center. Kami juga mendapat kesempatan bertamu ke KBRI Seoul dan berbincang dengan Bapak Dubes RI .

Hal terpenting apa yang menjadi modal buat kalian hingga bisa tetap eksis sampai saat ini?

Modal utama dari semua hal tentunya niat baik, Kami banyak menerima dukungan dari rekan-rekan sesama seniman, rekan usaha dan keluarga. Anda semua juga dapat ikut berpartisipasi pada kegiatan kami, Karena sampai saat ini kami menyebutnya sebagai misi diplomasi budaya dan tentunya eksistensi dan kesuksesan kami masih sangat membutuhkan dukungan dari anda semua yang membaca tulisan ini.

Buat kalian yang ingin memiliki album penuh Lantun Orchestra sila di unduh pada aplikasi musik digital spotify berikut ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here