Taufiq Rahman Lelah Mencari Rock N Roll

0
110

Entah apa yang akan saya tulis di rubrik ini, semoga saya tidak salah dalam memilih judul di atas. Awal pertemuan ini sangat klise, sebelumnya belum pernah saya mendapatkan sosok orang seperti pria ini.

Untuk permasalahan orang yang akan saya bahas kali ini sebenarnya tidak rumit-rumit amat, jujur saya tidak bertemu langsung, tatap muka, bahkan mendengar suaranya saja saya belum pernah!

Kejadian itu berlangsung sangat cepat, tepatnya diakhir tahun 2012 lalu (mungkin saya ketinggalan jaman mendengar hal ini dibanding kalian pembaca), kala itu saya bersama salah seorang sahabat karib yang sampai saat ini masih setia ke mana pun saya pergi di temani dia dan rencananya kami berdua mau pergi ke planetarium kawasan Taman Ismail Marzuki., namanya Dicky Nuari.

Saat itu seperti biasa di dalam kamar rumah saya sambil menikmati kopi hitam kami membicarakan soal (ya) musik dan kebetulan saat itu juga sudah terciptalah website kami berdua www.indiejakarta.com .

Suasana kala itu sedang gerimis dan saya sedang mendengar lagu “I Want You (She So Heavy) milik The Beatles dari album Abbey Road, lalu teman saya itu berkata: “Masih aje lo dengerin The Beatles, nih coba Pink Floyd”.

Saya yang masa bodo amatan dengan ucapannya saat itu masih saja meneruskan pendengaran saya kepada suara lead gitar George Harrison yang menurut saya memukau itu.

Kelar lagu tersebut habis, baru saya jawab pertanyaannya:

“Emang gimana sih Pink Floyd?” lalu ucapan dicky kembali membuat saya harus keheranan.“Tahu gak lo kalau saat Pink Floyd rekaman di Abbey Road sound engineer The Beatles yang buat Sgt.peppers nyerah dengerin lagu-lagu mereka?” Udah gila ini orang pikir saya waktu itu.

Namun saat saya belum lagi mau menanyakan hal itu lebih jauh, Si cutbray (nama panggilan teman saya itu) ternyata sedang asyik membuka link website berdomain www.jakartabeat.net  sambil berkata “Ada lagi nih yang lebih gila, lo tahu the doors kan?” “Iya, tahu” jawab saya. “Masa pemain keyboardnye (Raymanzarek) dibilang masih amatir sama Omar Khorsid? Itu katanya musisi gitaris dari mesir!” Ucap Cutbray.

“Hah? Bohong? Sarap tuh orang! Siapa yang nulis?”  kata saya yang kali ini benar-benar terkejut dan sedikit senyum heran. “Namanye Taufiq Rahman! Penulis di Jakarta Beat, Lo buka aja nih tulisannya: http://jakartabeat.net/resensi/konten/gitar-dari-timur ”.

Sebelumnya memang saya sudah kenal dengan website jakartabeat juga, tapi saya lebih memilih untuk membaca tulisan yang bertajuk humaniora atau seni ketimbang soal musik.

Beranjak dari perbincangan kacau itulah saya bersama teman saya itu menelusuri siapakah itu Taufiq Rahman? orang semacam apakah dia? Dan rasa penasaran itu baru saja terbalas kala saya membeli buku tulisan dia bertajuk “Lokasi Tidak Ditemukan, Mencari Rock N Roll Sampai 15.000 Kilometer.” 

Tapi, baru saja awal tahun 2014 berlangsung, penulis buku itu menghilang dari peredaran dunia maya bernama twitter dan akunnya @rahmantaufiq itu dihapus.

Seorang Taufiq Rahman yang baru belakangan saya ketahui adalah seorang dosen sekaligus penulis berita politik di sebuah harian berbahasa inggris The Jakarta Post itu saat ini malah mendirikan sebuah label yang dinamakan Elevation Records, sebuah nama yang diambil dari salah satu lagu band punk asal amerika Television dari albumnya Marquee Moon.

Baiklah untuk selengkapnya berikut hasil wawancara saya (via email) bersama beliau yang saya sampai saat ini masih tetap membenarkan segala apa yang diucapkan dan ditulisnya, silakan simak dibawah ini :

Bagaimana mas, sudah sehat? Dengar-dengar sebelumnya sempat sakit diawal tahun?

Iya sakit kecil tapi mesti dioperasi jadi mesti tinggal di rumah sakit. Sekarang masih tahap penyembuhan

Boleh tahu saya sekilas tentang diri anda?

Sakit di atas saya curiga karena terlalu capek saja. Terlalu banyak waktu tersita jadi lupa menjaga kesehatan dan kebersihan. Selain menjadi redaktur politik koran The Jakarta Post, saya juga mengajar di sebuah universitas negeri dan sekaligus menjalankan Elevation Records sebagai one-man show. Saya tidak tahu kenapa tiga-tiganya bisa jalan secara maksimal.

Gimana pendapat mas Taufiq Rahman dalam hal menulis musik?

Menulis musik buat saya sama seperti menulis untuk memahami aspek kehidupan yang lain. Oleh karena itu saya tidak mau menulis musik sebagai entertainment an sich. Dan tidak semua hal dalam musik juga layak ditulis. saya hanya akan menulis tentang musik hanya ketika ada ide yang cukup kuat yang mau saya sampaikan, sama seperti saya punya keinginan kuat untuk mendekosntruksi pemikiran Prabowo Subianto soal pentingnya kehidupan desa. Saya terus terang lebih jarang menulis akhir-akhir ini karena sibuk menjalankan aspek lain dari musik. Menjadi kurator dan memperkenalkan musik yang menurut saya layak dengar melalui Elevation recs. Tapi menulis musik juga mendapat posisi penting di Elevation. Essay, press release atau note yang muncul di website elevation, itu sama pentingya dengan apa yang saya tulis di Jakarta beat atau The Jakarta Post. Saya tidak mau menulis press release misalnya hanya untuk menjual musik.

Apakah menulis musik sudah menjadi profesi buat anda?

Music won’t pay my bills, apalagi menulis musik. Day-job saya memungkinkan saya bisa menulis musik secara bebas tanpa dibayar dan mendirikan record label tanpa perlu terlalu memikirkan profit.

Langkah awal anda saat anda ingin menulis dan menilai musik itu seperti apa?

Ha ha ha this is tricky. Seperti saya jelaskan di atas, saya hanya akan menulis musik jika ada hal menarik yang mau disampaikan. Terakhir saya menulis tentang bubarnya Semakbelukar, saya menulis bukan untuk mempromosikan mereka, tapi karena kisah mereka penuh makna, luar biasa dan bahkan jika dibuat documentary ini sudah mirip “Waiting for the Sugarman” (correct me). Beberapa rekan mengaku menangis, termasuk David Hersya, membaca tulisan itu. Bukan karena tulisannya bagus, tapi karena kisahnya yang luar biasa. Saya hanya menjadi penutur.

Menurut anda apakah ada musik jelek dan musik bagus?

Ini juga controversial, ha ha ha. Yang ada hanya musik dan hiburan. Musik yang ditulis dengan blood, sweat, tears, rage semacam In Utero, In the Aeroplane Over The Sea, atau Semakbelukar s/t. Musik-musik yang ditulis sebagai karya paripurna, menghabiskan energi dan akal sehat sang seniman dan kemudian menjadi mahakarya. Saya iri kepada seniman-seniman hebat ini. Di sisi lain ada hiburan, karya yang ditulis dengan kesadaran bahwa dia hanya akan menjadi kelangenan tanpa makna besar melebihi dirinya. Coba dengarkan kathy perry, Peterpan atau jay-z era akhir. Semua menciptakan musik tanpa ide besar dan naluri seni.

Seberapa sering anda mendengarkan musik tiap harinya?

All the time. Di rumah ada stereo set yang berisi turntable, CD player, kaset player, boom box yang bergantian berputar. Di jalan pasti ada iphone dengan itunes di dalamnya. Mungkin 70 persen hidup saya habis untuk memikirkan dan mendengarkan musik. Yang lain hanya mencari nafkah untuk mendukung kelangsungan hidup.

Selain musik, apakah anda juga suka mengamati hal lain?

Saya jurnalis politik dan pengajar hubungan internasional, jadi ya menulis dua hal itu, politik lokal dan kadang internasional, yang tentu saja jauh tidak semenarik musik bukan?

Kalau anda diajak untuk berbicara soal politik bagaimana reaksi anda?

Ditanggapi dan tidak keberatan karena setiap hari saya sudah bergelut dengan itu, menulis, menganalisa, membaca karya mahasiswa–dan dibayar untuk itu–. Tapi kalau bisa tema lain saja. Let us talk about art, shall we?

Kalau anda disuruh memilih, menulis hal lain bukan musik atau berdebat soal politik, anda pilih apa?

Menulis musik saja tentu saja. Terus terang begitu anda di atas 30-an naluri berdebat sudah otomatis hilang karena anda sudah hidup lumayan lama untuk tahu bahwa tidak ada jawaban tunggal buat apapun di dunia ini. Jadi setelah 30-an, prinsip yang baik adalah tenggang rasa atas perbedaan saja dan tidak perlu menganggap bahwa kita cukup penting untuk menjadi otoritas bagi kebenaran. Jika anda merasa menjadi otoritas kebenaran dan perlu menjadi penyampai kebenaran itu, berarti ada yang salah dengan anda. You should check your head. Itu juga salah satu alasan saya mematikan semua sarana sosial media. Lelah menyaksikan semua orang beradu kebenaran hanya untuk mengadu kebenaran. Same shit, different media saja.

Sekarang bicara soal buku anda nih “Lokasi Tidak Ditemukan, Mencari Rock N Roll Sampai 15.000 Kilometer” apa yang ada dibenak anda kala itu, untuk menerbitkan buku ini?

Itu cuma kumpulan tulisan waktu saya di Amerika Serikat sekolah. Saya tidak suka menulis soal jalan-jalan dan saya hanya mau dan bisa memahami dunia melalui musik jadi saya menulis tentang perjalanan hidup melalui musik. Saya juga tahu perjalanan hidup saya tidak menarik dan sedramatis Edensor atau laskar pelangi–walaupun saya juga dari desa dan bisa sekolah di luar negeri dengan bea siswa prestisius– jadi melalui musik saya pikir kisah itu bisa menjadi menarik, karena musik yang saya cari juga memiliki cerita panjang yang lebih dahulu menarik.

Ada yang bilang buku anda tersebut hanya berisi soal curhatan anda saja dan ada pula yang tidak sependapat dengan pemikiran anda, bagaimana anda menanggapi?

Bukan curhat, karena saya tidak menulis misalnya saya punya pacar kulit putih di kampus (e.g. Edensor) atau saya menulis tentang betapa susahnya hidup sebagai orang asing di negeri asing. Saya tidak whiny, saya tidak minta dikasihani atau saya tidak minta dipuji dan mendapat penghargaan atas apa yang sudah saya capai sejauh ini. Kalau saya ingin dapat semua itu mungkin anda akan melihat akun sosial media saya aktif setiap saat, atau buku saya dicetak oleh Gramedia dan masuk toko. Tidak sependapat, that’s the least of my problems. 😀

Sejauh mana anda ingin mengamati rock n roll itu sendiri? Apakah dengan 15000 km itu sudah cukup?

Rock and roll is dead dan yang kita dapat sekarang, mengutip Bung Karno adalah abunya. Sampai 30.000 kilometer juga tidak akan ketemu, tapi justru di situ point-nya, mencari hal yang membuat anda hidup. Mendengarkan musik saja, saya tidak puas, menulis tentang musik saja saya tidak puas, menjadi kolektor musik saya tidak puas, dan sekarang saya ada di tahap mendirikan record label. Meski begitu satu hal yang tidak akan saya lakukan adalah bermain musik. Saya cukup waras untuk menyadari bahwa saya tidak punya skill dan saya tidak ingin membuat malu diri sendiri.

Makna rock n roll sendiri buat anda seperti apa?

Mengutip seseorang dari New York, music, rock and roll, punk atau apapun namanya, adalah the coleslaw of life. Dia bukan hanya saus atau minuman ringan yang menemani cheeseburger anda. Musik seperti coleslaw of life, salad yang membuat makanan atau hidup anda menjadi lebih sehat dan lebih bermutu.

Sekarang soal musik di Indonesia, apa pendapat anda soal scene musik disini?

Jakarta terutama menurut saya adalah salah satu tempat dengan scene musik paling baik bahkan di Asia dan itu semua dihasilkan tanpa dukungan apapun dari negara dan industri media dan semua orang di mainstream. Scene indie di Jakarta atau di jawa bisa tumbuh hanya karena energi luar biasa orang orang di dalamnya yang saling membantu dan mendukung. Penulis musik punya band menulis band temannya yang kemudian membantu merilis rekaman temannya atau membikin panggung buat band temannya lagi.Yang mungkin perlu dikurangi mungkin hanya negativity di social media saja sih. Itu hanya menjadi distraksi yang tidak perlu.

Apakah anda salah seorang yang suka musik Indonesia juga?

Tentu saja, di Elevation saya hanya merilis musik Indonesia bukan? Saya dengar Tiga Pagi dan suka sekali. Strange Mountain, Jirapah, Aurette, Southern beach Terror adalah musik-musik lokal bercita rasa internasional yang layal dirilis oleh label-label dunia dan kalau tidak banyak warga dunia yang mau mendengar. It’s their loss!

Musik indonesia pilihan anda seperti apa?

All kinds, saya dengar mulai dari Eyefeesix, Sssslothhhh, The Sigit, sampai Sawi Lieu dan Duck Dive. Mungkin yang tidak banyak saya dengar hanya hard core atau heavy metal. Tapi saya cukup tahu kalau Siksa Kubur rilis vinyl atau saya beli plat Kelelawar Malam.

Ngomong-Ngomong, diawal tahun ini sudah berapa lagu atau mungkin album yang sudah anda dengarkan?

Saat ini saya suka banget dengan preview copy album hip hop dahsyat yang sebentar lagi akan di rilis label Grimloc Bandung. Nama artisnya Swerte mash-up dan sampling nya cukup edan. Banyak sample-sample musik Indonesia lama yang totally sick! Saya masih tunggu rilisan vinylnya. Saya masih dengar Deafheaven Sunbather, saya masih dengar karya lama Semakbelukar dan mengulik komposisi-komposis asli yang dimainkan Omar khorshid di guitar el chark, karya-karya Farid al Attrach, Ahmad Abdel Wahad etc.

Analisa anda tentang musik indonesia kedepan?

Selama indie masih punya audience, masa depan kita akan tetap cerah jika bukan tambah baik.

Mungkin ini terakhir, adakah saran untuk musik di indonesia?

Wah saya tidak punya otoritas apapun untuk memberi saran. Let if flow saja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here