Kedigdayaan Pink Floyd Lewat Piper Gates

0
72
Pink Floyd with Syd barrett

Ditulis Oleh:

Armandio Alif ( @armandioalif )

Satu minggu yang lalu, berawal dari ketidak sengajaan ketika saya sedang tidak tahu lagi ingin mengetik apa di mesin pencari internet sementara saya kala itu juga sedang tidak tahu lagi apa yang harus saya kerjakan selain mengetik sesuatu di mesin pencari internet, saya menemukan sebuah film berjudul 24 Hour Party People. Setelah itu saya mampir ke situs imdb untuk mencari lebih jauh tentang film tersebut. Di halaman awal imdb, terpampang sebuah kalimat yang menggelitik keinginan saya untuk menonton film ini:

“In 1976, Tony Wilson sets up Factory Records and brings Manchester’s music to the world.”

Membaca nama Tony Wilson langsung mengarahkan pikiran saya ke sekelompok anak punk Inggris, dan tentu saja, Joy Division dan New Order. Lebih jauh, Tony Wilson adalah seorang promotor, produser, dan pemilik klub Hacienda. Maka, untuk mengakhiri kekurang-kerjaan saya hari itu, saya memutuskan untuk menonton film 24 Hour Party People.

Tapi tenang saja, saya tidak akan membahas film itu di sini.

Ada sebuah adegan di film itu yang memorable bagi saya. Tony Wilson (dimainkan Steve Coogan) menemukan sebuah poster album Darkside of the Moon tertempel di dinding ruangan yang akan ia beli untuk kelak dijadikan klub Hacienda. Apa yang dilakukannya dengan poster itu? Menciuminya? Menyembah-nyembah? Atau, melepasnya dari dinding dengan amat hati-hati kemudian diberi bingkai untuk dipajang lagi? Tidak. Ia merobeknya. Sesederhana itu.

Menurut saya, adegan kecil itu menggambarkan betapa muaknya generasi punk terhadap Pink Floyd terlebih lagi album Dark Side of the Moon.

Di Inggris satu dari empat keluarga diperkirakan memiliki album ini, sedangkan di Amerika Serikat satu dari 14 laki laki dewasa diperkirakan memiliki kopi album ini. Kabarnya, di Amerika Serikat album ini masih laku di atas 90,000 kopi setiap minggu. Fakta bahwa Dark Side of the Moon sangat laku bisa menjadi alasan untuk makin membenci album ini. Antipati generasi punk. saya rasa, berlaku juga untuk semua album Pink Floyd yang lain, yang juga hampir sama secara konsep dengan Dark Side of the Moon. Album Wish You Were Heremisalnya, adalah album dengan lagu-lagu yang luar biasa panjang dan harus didengarkan secara kusyuk tanpa jeda. Pergilah ke warung yang jaraknya kira-kira 100 meter dari rumahmu ketika lagu Shine On Your Crazy Diamond baru saja dimainkan, belilah rokok, dengar juga celoteh ibu-ibu yang mengeluhkan harga minyak goreng, lalu pulanglah ke rumah dan niscaya Shine On You Crazy Diamond baru saja masuk ke sesi petikan David Gilmour. Saat kamu ke warung, kamu hanya melewatkan derau angin di intro. Selain karena terlalu laku bagi Wilson dan generasi punk kala itu, album Dark Side of the Moon hanya berisi musik-musik panjang tak jelas, bertele-tele, dan pengantar tidur berbahaya, sebuah kemapanan yang harus di tolak.

Kalau ada album Pink Floyd yang tidak bisa ditolak oleh siapapun, termasuk penggemar musik punk yang paling taat, album itu adalah album pertama Piper At the Gates of Dawn. Album pertama ini merupakan cetak biru musik Pink Floyd yang sangat psychedelia dengan suara gitar membahana, ditimpali bunyi-bunyian aneh dari alam sebelah, namun berdasarkan melodi melodi bagus dan mudah dicerna. Ini adalah salah satu dari sedikit album yang tidak akan menua meskipun didengarkan ribuan kali dalam bentuk apapun, piringan hitam, kaset, CD, atau MP3. Dan aktor dibalik album ini adalah Syd Barrett. Piper At the Gates of Dawn adalah buah dari kegilaan Syd, yang bagi saya pribadi membuktikan sekali lagi hubungan antara kegilaan dan peradaban—apapun bentuk hubungan tersebut. Lagu-lagu di album ini di tulis oleh Syd dalam masa puncak kreativitasnya yang banyak dibantu oleh obat-obatan LSD, dan mungkin lagu-lagu di album ini adalah hasil pengembaraan Syd Barrett di dunia yang konon lebih-besar-dan-lebih-terang. Saya bilang ‘konon’ karena saya sendiri belum pernah mencobanya.

LSD seolah menjadi roket yang melontarkan Syd Barrett ke tempat yang sangat jauh—yang mungkin tidak mungkin kita kunjungi dengan Garuda Airlines—dan suasana perjalanan itu kemudian direkonstruksi sedemikian rupa di side A album Piper At the Gates of Dawn: Astronomy Domine, Lucifer Sam,Mathilda Mother, The Flaming.

Dimulai dengan suara derau suara roket dan sinyal morse serta suara pengendali dari ruang kontrol, jelas Astronomy Domine adalah cerita tentang sebuah perjalanan, entah ke mana. Di sepanjang lagu ini gitar Syd berperan sebagai rhythm section yang sekaligus memainkan melodi-melodi tajam beradu dengan suara-suara keyboard Rick Wright.

Masuk ke lagu Lucifer Sam—sejujurnya saya tidak tahu lagu ini bercerita tentang apa, sejauh yang saya coba pahami lagu ini mungkin bercerita tentang kucing yang dirasuki arwah Lucifer—dimulai dengan riff yang cocok untuk menjadi soundtrack film-film Alfred Hitchcock. Riff inilah yang kemungkinan menjadi dasar keseluruhan lagu, di mana Syd berkejaran dengan suara keyboard Wright.

Lagu yang menakutkan selanjutnya adalah Mathilda Mother. Di tengah lagu, keyboard Rick Wright memainkan sebuah solo melodi yang datang dari… emm, dunia tetangga… dengan gaya penyuling India hendak membangunkan ular kobra dari dalam guci.

Di lagu The Flaming, Syd mulai memperlihatkan kecenderungannya untuk menciptakan lagu -lagu dengan melodi lagu anak anak, lullaby, atau dalam budaya jawa kita kenal sebagai lagu dolanan. Di lagu ini kecenderungan lagu dolanan anak-anak masih diaduk dengan suara suara aneh dari dunia gelap.

Selain hidup di dunia samar-samar, nampaknya Syd punya masa lalu anak-anak kelas menengah Inggris yang bahagia, dan itu masih terpelihara hingga dewasa. Judul Piper at the Gates of Dawn sendiri di ambil dari salah satu bab buku anak anak The Winds in the Willow yang film animasi clay-motionnya masih sempat saya saksikan di stasiun televisi swasta Indonesia ketika saya masih kecil.

Kegilaan sendiri digambarkan secara literer di lagu tanpa vokal “Pow R. TocH”. Di tengah dentuman drum, keyboard tiga chord, dan raungan gitar—serta suara desis aneh—semua personal Pink Floyd tertawa-tawa dan membuat suara-suara tanpa makna dari mulut mereka. Menurut dugaan berlebihan saya, mungkin suara seperti ini yang didengar Nietzsche sebelum dia jatuh gila.

Irama lagu anak-anak dikembangkan secara penuh di lagu “Bike”, single terbesar dari album ini yang sekaligus menjadi lagu penutup album ini. Di lagu yang terasa sangat Inggris ini, Syd menyanyi riang dengan modulasi yang setara mudah dicerna-nya dengan lagu anak-anak itsy bitsy spider climb up the water spout. Dengan tema yang sangat sederhana: Aku akan ke datang ke tempatmu naik sepeda. Lagu ini adalah sebuah hal langka di dunia rock and roll, lagu psychedelic yang bercerita tentang sepeda dan… manusia kue jahe. Hanya pikiran gelap dari orang semacam Syd yang bisa menciptakannya.

Namun kecemerlangan Syd di album ini segera memakan korban. Beberapa bulan setelah merekam album ini, Syd semakin jauh melangkah ke dunia kecil itu dan tidak mungkin kembali lagi—LSD mungkin berperan tapi saya lebih percaya kalau Syd memang punya kecenderungan untuk memang berada di sisi lain. Lupakan, nampaknya saya sudah cukup banyak berspekulasi ditulisan ini.

Tiga rekan Syd akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Syd di dunianya sendiri dan merekrut gitaris David Gilmour, seseorang yang kemudian secara radikal mengubah musik Pink Floyd menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Perpisahan Syd dengan teman-temannya ini adalah sebuah kisah sedih tentang persahabatan dan kesetiaan. Saya terharu dengan kenyataan bahwa Roger Waters dan David Gilmour tetap main di album solo Syd, The Madcap Laugh. Saya juga terharu dengan kesetiaan Waters dan Gilmour untuk tetap mengirim uang royalti untuk Syd sampai dia meninggal di Oxford. Dengan uang royalti ini Syd bisa hidup tanpa pernah bekerja atau memiliki keluarga.

Namun satu hal yang membuat saya lebih terharu adalah kisah dari proses rekaman Wish You Were Here yang diceritakan oleh Mikal Gilmore di cerita sampul majalah Rolling Stone. Edisi ini adalah untuk merayakan reuni Pink Floyd yang main untuk konser Live Aid yang di promotori oleh Al Gore. Di situ diceritakan bahwa ketika hampir selesai proses mixing Wish You Were Here, sebuah album yang memang didedikasikan untuk si penyanyi dan gitaris pertama mereka itu, Syd datang ke studio dengan pakaian compang-camping dan wajah yang hampir tidak bisa dikenali sambil membawa gitar dan menawarkan diri: Apakah ada bagian gitar yang belum selesai? Kalau tidak salah kemudian Gilmour menjawab: Maaf Syd, semua permainan gitar sudah selesai.

Syd kemudian masuk ke studio dan mendengarkan lagu “Shine On”, sebuah lagu yang khusus diciptakan untuk menggambarkan kejeniusan Syd. Roger Waters sendiri diceritakan menangis melihat kejadian ini. Begitu besarnya penghormatan personel Pink Floyd terhadap Syd sampai-sampai keputusan untuk manggung bersama di Live Aid semata-mata hanya karena mereka hendak menghormati arwah Syd yang baru berpulang. Kita tahu bahwa Gilmour dan Waters sampai sekarang masih belum akur. Dan penghormatan yang begitu besar itu semata-mata didasarkan untuk album Piper at the Gates of Dawn. Meski saya heran kenapa di daftar Rolling Stone 500 Best Album of All Time album ini masuk di urutan 300-an.

Begitulah tulisan ini berakhir, tak jelas juga apakah saya sedang membicarakan film, punk, Piper at the Gates of Dawn, atau Syd Barrett. Lupakan soal itu, karena setelah menulis ini saya mau menikmati teh manis dengan tiga batang rokok, dan mulai memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti: apakah saya harus memelihara burung dara atau ikan cupang? Sambil mendengarkan album Piper at the Gates of Dawn dan membiarkan kebisingan berita nasional berlalu begitu saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here