Dua Buku, Sebuah Persembahan Dari Pusakata

0
30

Pusakata resmi merilis debut albumnya yang bertajuk Dua Buku pada tanggal 30 Juli 2019. Ini adalah debut album dari Mohammad Istiqamah Djamad sekaligus persembahan sang musisi kepada penggemar musiknya. Sebuah album yang ditulis dengan cinta, semangat dan hasrat akan musik.

Buat anda yang belum tahu, Pusakata adalah sebuah entitas musikal baru yang dibangun
Mohammad Istiqamah Djamad atau yang biasa disapa Is.

Empat buah single dirilis sebagai pendahuluan atau teaser untuk fans dan penikmat musik yang ingin tahu seperti apa karakter musik dan lirik dari Pusakata, masing-masing dari “Cemas”, “Kehabisan Kata”, “Jalan Pulang” dan “Kumpul Famili dan Teman”. Dan untuk menandai perilisan album baru tersebut, sekaligus juga merilis single “Kita” dari buku dua.

Di debut albumnya ini, Pusakata mencurahkan seratus persen segenap cipta, rasa dan
karsanya mulai dari penulisan lirik, lagu termasuk menjadi produser eksekutifnya. Tak ada gagasan yang terlalu rumit untuk musiknya, tak lain hanya kumpulan rekaman lagu-lagu yang bagus.

Lebih dari sekadar lagu-lagu yang indah, Dua Buku adalah kumpulan jurnal perjalanan
Pusakata selama sekian tahun. Pulang ke kampung halamannya setelah berjibaku di Ibukota dan berkeliling Indonesia, Pusakata menulis banyak cerita dan kegundahannya, cerita personal yang mungkin jadi pengalaman personal bagi orang lain, siapapun yang menjadi pendengarnya.

Ragam cerita ditulis di album ini, tentang bagaimana ketakutan anak-anak di lagu “Cemas”
yang memotret anak-anak yang menjadi antara lain korban perang, konflik, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan seksual. Anak-anak cemas lantaran ingin lari dari tempat yang gelap sampai tidak tahu akan lari ke mana atau ke siapa.

“Saya membuat lagu ini dengan tiga bagian terpecah. Di depan ada kecemasan, di tengah ada melodi manis yang membungkus refrain, dan di bagian akhir tetap ada ketakutan. Soalnya ke manapun mereka lari, anak-anak akan tetap dihantui,” kata Pusakata.

Ada lagi cerita tentang sebuah perjalanan pulang ke rumah seperti di lagu “Jalan Pulang”, yang juga menyoal momentum penyadaran diri. Sebuah perenungan untuk kembali mengingat rumah, mencari jalan pulang, pulang ke rumah.

“Sebagai manusia, kita pasti ingin pergi meninggalkan rumah untuk bertualang sesuai imajinasi dan hasrat. Perjalanan ke banyak tempat dan bertemu dengan berbagai jenis kehidupan. Merasakan berbagai perubahan dalam diri secara dinamis. Tak jarang mengubah kita menjadi sosok dan pribadi yang baru,” tutur Is.

Ada juga lagu yang dibangun dari sebuah inspirasi, seperti “Kehabisan Kata” yang lahir dari
naskah berjudul “Metropole” karya Agnes Purwanti, istri tercinta Pusakata. Berkisah tentang orang-orang di kota Metropole yang menjadi saksi perubahan sebuah pasar rakyat menjadi kota besar.

Atau ketika “Jalan Pulang” memaknai tentang rumah, maka lagu seperti Kumpul Famili dan
Teman menggambarkan hangatnya suasana rumah bersama keluarga dan teman-teman.
Bagaimana Pusakata mencoba merenungi dan memaknai keluarga ibarat seperti air, pasir dan urat nadi. Juga bagaimana teman adalah kekuatan tambahan dari Tuhan, sebuah karunia yang diberikan oleh yang Maha Kuasa yang bukan tidak mungkin terkadang bisa menjelma menjadi keluarga.

Seluruh tema di album Dua Buku lahir dari sebuah pemikiran sederhana, yang menjadikannya istimewa adalah cara Pusakata menyanyikan lirik-lirik itu dengan begitu syahdu seakan mengajak kita untuk masuk ke dalam sebuah cerita, membaca buku, dua buku jadi satu.

Dengan dirilisnya Dua Buku dari Pusakata, semoga album ini bisa menjadi obat bagi siapapun yang rindu dengan karya-karya puitis dari Pusakata. Semoga album ini juga bisa memberikan warna bagi kanvas musik Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here