Pengumuman 16 Nama Pembicara dan Peluncuran Tiket Tahap Awal Ubud Writers & Readers Festival 2019

0
91

Pada hari Rabu (03/07/2019), Ubud Writers & Readers Festival (UWRF)
mengumumkan 16 nama pembicara tahap awal yang akan bergabung dalam acara sastra,
budaya, dan seni selama lima hari berturut-turut pada tanggal 23-27 Oktober mendatang.
Berpusat di tiga lokasi utama yaitu di Taman Baca di Jl. Raya Sanggingan Ubud, Indus
Restaurant, dan Neka Art Museum, Festival yang selalu dinantikan oleh para pencinta sastra dan penggemar seni budaya ini akan menghadirkan beragam acara menarik mulai dari panel diskusi, acara spesial, lokakarya (workshop), pemutaran film, dan masih banyak lagi.

Pada kesempatan yang sama, UWRF juga resmi meluncurkan tiket tahap awal (early bird)
yang dijual hingga tanggal 2 Agustus mendatang, sebelum deretan program UWRF akan
diumumkan pada tanggal 13 Agustus. Para calon pengunjung Festival mempunyai
kesempatan untuk menghemat sebesar 20% untuk pembelian 4-Day Pass dari harga reguler jika membeli tiket tahap awal (early bird) ini. Tiket tahap awal (early bird) ini tersedia untuk kategori Indonesia, Internasional, Residen, KITAS, ASEAN, dan Pelajar Internasional. Tahun ini, UWRF merayakan tahun ke-16 sebagai salah satu acara sastra terkemuka di dunia. Sebagai salah satu dari lima festival sastra terbaik untuk tahun 2019 versi TheTelegraph UK, festival ini akan mempertemukan lebih dari 170 penulis, seniman, dan pegiat dari lebih dari 30 negara, untuk berbagi kisah luar biasa dan gagasan-gagasan berani melalui tema tahun ini, Karma.

Tema tahun ini terinspirasi dari filosofi Hindu yang kemudian dikenal secara luas sebagai sebuah hukum sebab akibat. Karma Phala bagi masyarakat Hindu Bali merupakan konsep spiritual yang menyatakan bahwa setiap tindakan akan memicu konsekuensinya yang setara dalam kekuatan dan bentuk yang serupa. Tema ini akan menggali dampak dari tindakan kita, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan. Dengan beragam kejadian yang ada disekitar kita, konsep karma ini akan mendorong kita untuk bertanya apakah kita benar-benar memahami konsekuensi dari tidakan kita, dan bagaimana kita dapat menanggapi tindakan orang lain dengan sebaik-baiknya. Keragaman budaya dan kreativitas yang luar biasa tercermin dari para pembicara tahap awal UWRF19. Dengan bangga, Festival akan kembali menyambut Seno Gumira Ajidarma, sastrawan terkemuka Indonesia dengan karya-karya mutakhir seperti Obrolan Sukab (kumpulan kolom), Transit (kumpulan cerpen), dan Kalatildha edisi kritis (novel). Penulis terkenal yang selalu menolak jika hidup dan karya-karyanya dikotak-kotakkan tersebut akan berdampingan dengan Azhari Aiyub, sastrawan Aceh penulis Kura-kura Berjanggut, novel ambisius mengenai lada, bajak laut, dan bangkitnya kolonialisme. Novel tersebut meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa pada 2018. Turut hadir Iksaka Banu, penulis sekaligus komikus yang telah mengulik masa lalu kolonial Indonesia untuk menenun kisah yang begitu memukau. Karyanya, Semua Untuk Hindia, juga meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa pada 2014. Tahun ini, UWRF juga kembali menyambut Laksmi Pamuntjak, novelis yang meyakini bahwa makanan sangatlah penting dalam perjalanan seseorang untuk menemukan jati diri. Film yang diangkat dari adaptasi novel keduanya, Aruna dan Lidahnya (2018), berhasil menuai banyak pujian. Dari dunia perfilman, Rayya Makarim, penulis skenario dan produser di balik beberapa film Indonesia yang paling menakjubkan seperti Pasir Berbisik (2001) dan 27 Steps of May (2018). UWRF juga akan kehadiran Nirwan Dewanto, penyair, esais, dan aktor yang semakin dikenal publik karena aktingnya memerankan seorang uskup Katolik dalam film biografis Soegija (2012).

Keberagaman dalam UWRF juga akan semakin terlihat dengan hadirnya Andreas Harsono yang meliput Indonesia untuk Human Rights Watch sejak 2008. Peneliti yang bertekad untuk mengangkat kaum minoritas dan terpinggirkan di Indonesia ini akan akan ikut menyuarakan kisah-kisahnya dalam perhelatan UWRF, bersama dengan Lala Bohang, seorang seniman visual yang bereksperimen dengan hal-hal yang tidak terlihat, dilarang, dan imajiner oleh masyarakat, termasuk dalam serial buku ilustrasinya The Book of Siblings.

Selain delapan nama pembicara nasional tersebut, UWRF juga mengumumkan delapan
nama pembicara internasional tahap awal yang tidak kalah menarik. Mereka memiliki
berbagai latar belakang yang berbeda, terdiri dari penulis, jurnalis, novelis, penasihat
budaya, penasihat strategi global, pembawa acara podcast, hingga penulis makanan.
Behrouz Boochani, jurnalis, penasihat budaya, penulis dan pembuat film berdarah Kurdi-
Iran. Saat ini berada Pusat Pemrosesan Regional Australia atau Pusat Detensi Pengungsi di
Pulau Manus, Papua Nugini, ia akan muncul di Festival melalui Whatsapp. Menuliskan ulang kisah tentang imigran sebagai orang dalam, bukan orang luar, Jenny Zhang adalah penulis Cina-Amerika dengan karya menakjubkannya Sour Heart. Ia akan bergabung dengan penasihat strategi global sekaligus penulis, Parag Khanna, yang pencaya bahwa masa depan adalah Asia. Hadir pula Tara June Winch, seorang novelis Wiradjuri yang berkisah tentang upaya merebut kembali bahasa, pribumi, cerita, dan identitas. Selain itu, Novuyo Rosa Tshuma dari Zimbabwe-Amerika, seorang penulis baru yang mengisahkan tentang kolonisasi dan dekolonisasi. Salah satu pemilik suara yang paling dicintai dan pembawa acara podcast paling populer ABC, Richard Fidler akan bergabung dengan Susan Orlean, penulis buku terlaris The Library Book dan The Orchid Thief, yang dijadikan film pemenang Academy Award berjudul Adaptation. Deretan nama pembicara internasional tahap awal ini ditutup oleh penulis makanan Inggris paling dicintai, Yotam Ottolenghi. Penulis buku makanan berjudul SIMPLE ini telah membuktikan bahwa makanan selalu bisa menjadi pintu gerbang menuju percakapan yang lebih beragam.

UWRF adalah Festival terbaik untuk bertukar ide, inspirasi, dan gagasan dari seluruh dunia.
Para sastrawan, cendekiawan, seniman, pegiat, dan akademisi telah sama-sama saling
membagi kisah dan suara hebatnya dalam Festival ini. “Keragaman budaya dan seni selalu menjai yang utama dari UWRF, dan pembicara internasional dan nasional yang kami umumkan pada putaran pertama ini merupakan bukti akan hal tersebut,” komentar Founder & Diector UWRF Janet DeNeefe. “Dari Aceh ke Zimbabwe, Festival tahun ini akan menyatukan suara-suara hebat, gagasan-gagasan kreatif, dan pemikir berani dari seluruh negeri dan dunia,” lanjutnya.

“Setelah merayakan Festival kami yang ke-15 pada tahun 2018 lalu, kami tidak sabar untuk menyambut para pengunjung Festival, baik yang sudah kerap datang maupun yang baruakan bertandang di tahun ini dalam salah satu acara sastra, budaya, dan seni terbaik didunia. Sampai jumpa di bulan Oktober!”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here