Ubud Writers & Readers Festival : Melihat Sastra dalam Konsep Pertunjukan

0
43
Sesi Konfresensi Pers Ubud Writers & Readers Festival

Ubud, INDONESIA – Lima belas tahun yang lalu, Ubud Writers & Readers Festival diselenggarakan pertama kali sebagai upaya penyembuhan atas tragedi dari bom Bali. Kini, UWRF telah menjadi wadah bagi para penulis, seniman, sutradara, pegiat, dan cendekiawan dari seluruh dunia untuk merayakan gagasan, ide, serta kisah-kisah hebat mereka. Dari Indonesia ke Jepang, Pakistan ke Inggris, Spanyol ke Vietnam, lebih dari 180 pembicara dari 30 negara termasuk Indonesia berkumpul di UWRF untuk merayakan tahun ke-15 festival.

Pada tanggal 24-28 Oktober lalu, UWRF telah berhasil menghadirkan lebih dari 200 program acara mulai dari panel diskusi, lokakarya, acara spesial, pemutaran film, peluncuran buku, pameran seni, pertunjukkan musik, dan masih banyak lagi.

Dimulai pada hari Rabu (24/10/18) sore, UWRF menggelar Press Call di Desa Visesa Ubud bersama Founder Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana dan Co-Founder & Director UWRF Janet DeNeefe serta pembicara-pembicara utama UWRF 2018 seperti salah satu penulis terbaik dari Inggris Hanif Kureishi, penulis dan jurnalis pemenang penghargaan Reni Eddo-Lodge, penulis sekaligus arsitek Avianti Armand, dan penulis muda Indonesia berbakat Norman Erikson Pasaribu. Pembahasan mengenai feminisme, keberagaman, kebebasan berekspresi, sastra yang berkembang dan manfaatnya yang meluas terangkat pun dalam tanya jawab bersama para pembicara dan jurnalis yang hadir dalam Press Call tersebut.

Selain itu, Press Call ini juga menjabarkan penjelasan menarik mengenai ‘Jagadhita’ atau ‘The World We Create’ sebagai tema yang diangkat tahun ini, yaitu tentang pencarian manusia akan kebahagiaan di dalam dunia yang kita ciptakan. Janet DeNeefe juga menceritakan perjalanan festival hingga telah memenuhi salah satu misinya menjadi jembatan bagi para penulis Indonesia agar karyanya lebih dikenal dunia.

“Ketika kita merenungkan 15 tahun terakhir dan bagaimana festival telah berkembang, ketika kita melihat kembali interaksi antara para penulis dan pembaca Indonesia dan internasional, sekiranya ada satu hal yang cukup jelas. Sebagian besar peserta festival awalnya mengatakan bahwa mereka tidak tahu apapun tentang penulis Indonesia, tetapi sekarang telah berubah. Orang-orang duduk [di panel diskusi UWRF] dan benar-benar memperhatikan,” ujarnya.

UWRF resmi dibuka dalam acara Gala Opening pada Rabu (24/10/18) malam di Puri Agung Ubud. Menteri Luar Negeri Indonesia tahun 2009-2014 sekaligus penulis Does ASEAN Matter: A View From Within Marty Natalegawa hadir dalam acara tersebut untuk memberikan sambutan dan membuka perayaan sastra, seni, dan budaya terbesar di Asia Tenggara ini. UWRF juga menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada salah satu penulis paling dicintai di Indonesia yang masih berkarya hingga usia senja Sapardi Djoko Damono.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Sapardi di dunia sastra Indonesia dan karya-karyanya yang luar biasa. Sapardi mengisahkan perjalanan sastranya dan mengungkapkan ucapan terima kasih kepada para penyunting buku-bukunya, yang baginya juga memiliki peran besar dalam karir kepenulisannya. Sapardi juga berharap UWRF menjadi festival sastra yang lebih besar dan dikenal.

“Terima kasih atas penghargaannya dan saya berharap UWRF akan semakin besar dan dikenal di masa mendatang,” ujar penulis berusia 78 tahun ini.

Pada Kamis (25/10/18) di Neka Museum, UWRF dibuka dengan sambutan dari Susi Pudjiastuti. Kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia ini dalam panel diskusi Sink It juga menjadi magnet tersendiri bagi UWRF 2018. Dimoderatori oleh Rebecca Henschke dari BBC News Indonesia, sesi ini membahas berbagai hal menarik mulai dari kasus kapal pemancingan ilegal, pentingnya kekuatan maritim di Indonesia, polusi dan limbah di laut Indonesia, hingga isu maritim internasional.

Hari pertama UWRF juga semakin semarak dengan kehadiran Sapardi Djoko Damono, Warih Wisatsana, Gratiagusti Channaya Rompas, dan Andre Septiawan dalam panel diskusi Higher Self. Para penyair dari generasi berbeda ini mengungkapkan sumber inspirasi penciptaan puisi, penemuan jati diri lewat puisi, hingga isu-isu menarik yang bisa diolah menjadi sebuah puisi.

Pada Jumat (26/10/18), UWRF menghadirkan sesi Twenty Years Later bersama penyair sekaligus pegiat asal Bali Saras Dewi dan Presiden Direktur Mizan Group sekaligus penulis buku Islam: The Faith of Love and Happiness Haidar Bagir. Sesi ini secara khusus mendiskusikan mengenai hal-hal yang belum berhasil dicapai Indonesia dalam era reformasi, kebebasan politik di Indonesia, hingga tingginya tingkat intoleransi di negeri kita tercinta. Sesi Envolving Islam yang menghadirkan Janet Steele, Sidney Jones, Haidar Bagir, dan Dina Zaman juga cukup menyita perhatian.

Pembahasan mengenai kemiripan dan perbedaan Islam di Indonesia dan Malaysia hingga kebijakan politik yang dibuat berdasarkan Islam didiskusikan secara mendalam oleh para pembiacara ahli tersebut. Di samping pembahasan politik dan agama, para pencinta film juga cukup dimanjakan dengan sesi mengenai film, yaitu sesi The Seen and Unseen bersama sutradara berbakat Kamila Andini. Sesi yang dimoderatori oleh Uphie Abdurrahman ini mengulik alasan Kamila membuat film yang emosional dan menyentuh hati, tema serta visualisasi film Sekala Niskala, hingga perjalanannya dalam mendanai film tersebut.

Pada Sabtu (27/10/18), UWRF menggelar sesi The Pledge di Taman Baca bersama peraih Online Indonesian Language Reviewer Award dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Ivan Lanin, penulis esai berbahasa Inggris In The Hands Of a Mischievous God Theodora Sarah Abigail, penulis sekaligus pendiri Comma Books Rain Chudori, penulis Myth, Magic dan Mystery in Bali Jean Couteau. Sesi ini mengulik penyebab kesalahan berbahasa hingga banyaknya generasi muda Indonesia yang kini lebih memilih untuk bercakap dalam bahasa asing di kehidupan sehari-hari mereka.

“Akan sangat tepat jika di Indonesia ini diterapkan perencanaan bahasa. Karena tanpa perencanaan bahasa, membiarkan orang berbahasa seenaknya seperti membiarkan orang mengemudi seenaknya, ujar Ivan Lanin.  “Para milenial menganggap rendah bahasa Indonesia dan bahasa daerah karena mereka tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari bahasa tersebut. Untuk itu, kita harus mengingatkan kembali bahwa bahasa kita pantas untuk dicintai. Tidak hanya membuat mereka peduli pada bahasa kita tetapi yang juga kepada negara kita,” sambung Theodora Sarah Abigail.

Yang juga menjadi highlight dari UWRF 2018 adalah hadirnya lima penulis emerging yang dipilih dari Seleksi Penulis Emerging Indonesia yang datang dari beberapa kota di pelosok Indonesia, untuk tampil dalam sesi-sesi diskusi bersama pembicara-pembicara terkenal dunia dan meluncurkan buku Antologi 2018. Andre Septiawan dari Pariaman, Reni Nuryanti dari Aceh, Rosyid H. Dimas dari Yogyakarta, Darmawati Majid dari Gorontalo, dan Pratiwi Juliani dari Rantau hadir dalam sesi UWRF Indonesian Emerging Writers 2018 pada Minggu (28/10/18).

Pada hari terakhir, UWRF 2018 juga menghadirkan Against All Odds bersama Yenny Wahid. Tingginya antusiasme dan banyaknya pertanyaan dari para peserta festival yang hadir membuat sesi tanya jawab dengan Yenny Wahid dilanjutkan di Green Room Neka Museum. Panel diskusi penutup yang digelar di Indus Restaurant menghadirkan Fifteen Years of UWRF sebagai perayaan tahun ke-15 UWRF. Janet DeNeefe menjadi panelis sesi, ditemani oleh Ketut Suardana, Kadek Purnami, dan I Wayan Juniarta. Dengan dimoderatori oleh Alistair Speirs, sesi ini mengungkapkan bagaimana perjalanan UWRF sejak 15 tahun yang lalu, bagaimana program-program diolah sebelum disajikan untuk para pencinta sastra dan penggemar seni, bagaimana orang-orang di balik festival bekerja keras untuk menghadirkan festival agar dapat diterima oleh semua kalangan dan generasi.

“Kami menghadirkan panel untuk melihat bagaimana efek dari sosial media terhadap lanskap sastra. Jika kalian melihat buku program kami tahun ini, kalian bisa melihat meningkatnya jumlah penulis muda dan penulis wanita dari yang sudah mendapat nama maupun yang masih merintis karir kepenulisannya. Meski orang-orang di balik festival ini menua, tetapi festival ini sendiri justru semakin muda. Kita mengadaptasi demografi baru para peserta festival. Festival ini pun tidak akan selamanya menjadi festival sastra, seni, dan budaya saja. Suatu hari nanti, bisa saja Ubud Writers & Readers Festival menjadi sebuah festival multidisiplin yang paling dinantikan di dunia,” ujar I Wayan Juniarta selaku Indonesian Program Manager UWRF.

“Bagi saya festival ini lebih dari sekedar festival kepenulisan. Ini juga merupakan festival yang membahas isu global seperti hak asasi manusia, festival yang juga menampilkan kesenian. Di sini, ada banyak hal yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Kami semua berharap festival ini akan semakin besar dan berkembang dengan program-program yang lebih kaya dan beragam,” tutup Janet DeNeefe selaku Co-Founder & Director UWRF.

 

 

This slideshow requires JavaScript.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here