Danilla Riyadi : Indie Bukanlah Genre

0
216

“Semoga makin banyak yang nge-band, keluarin warnanya sendiri. Jangan ikutin siapapun.”

Kira-kira begitulah pesan Danilla Riyadi, seorang musisi indie ternama di Indonesia. Pada kesempatan bertemu dan berbincang mengenai perkembangan ataupun pro dan kontra yang dialami oleh para musisi maupun penikmat musik indie, Danilla tidak banyak berkomentar.

Dara kelahiran 12 Februari 1990 ini memulai karirnya sebagai musisi indie dengan mempublikasikan album pertamanya yang berjudul “Telisik” di tahun 2014. Lagu pertamanya yang berjudul Ada Disana membuatnya mulai dikenal oleh masyarakat.

Ia menyebutkan pada awalnya ia tidak ingin menjadi penyanyi, namun ia bertemu dengan Lafa, yaitu seorang Produser Musik, dan keduanya memiliki kecocokan di bidang yang sama dan akhirnya mereka bergandeng dengan salah satu label yaitu Orion.

Pemilik nama lengkap Danilla Jelita Poetri Riyadi ini mengatakan bahwa semasa di label tersebut ia belajar berkomitmen terhadap ikatan-ikatan yang ada.

Awalnya Lafa lah yang membuat lagu, dan dikemudianya Lafa ingin Danilla untuk membuat lagu di album ke-2. Pada saat itu juga, Danilla berjanji pada Lafa untuk membuat lagu di album ke-2. Hingga saat ini Danilla masih terus menciptakan lagu-lagu dengan bantuan dari beberapa teman, kawan musisi, dan juga para penggemarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa jika pendengarnya sudah tidak mendengarkan lagu-lagu yang ia buat, mungkin ia tidak membuat lagu lagi. Danilla cukup bangga dengan progres yang telah ia lalui, dari yang terhitung “manja” dalam arti yang dulunya album masih harus dibiayain, sekarang sudah bisa berdiri sendiri.

Indie sebenarnya bukanlah sebuah genre musik. Kata indie atau yang biasa disebut independen itu berarti sendiri atau bebas. Indie adalah ketika seorang penyanyi memilih untuk berkarya dengan bebas tanpa adanya label yang menaungi.

Para musisi indie biasanya membiayai semua pengeluaran mulai dari biaya produksi, pemasaran sampai pendistribusiannya sendiri.

Bagi Danilla sendiri, Ketika ditanya jika ada tawaran dari majorlabel, apakah Danilla akan bergabung atau tidak, ia menjawab “Selagi tidak menganggu-gugat karyanya itu sendiri, tidak menutup kemungkinan untuk bergabung. Karena di era musik sekarang, major label dan minor label hampir mirip”.

Karya para musisi indie memang tidak mainstream seperti kebanyakan musik lainnya.  Idealisme orang yang bergerak di dunia kreatif sangatlah sulit untuk ditaklukan, dimata mereka kebebasan dalam berkarya adalah hal yang terpenting.

Bisa saja mereka tidak dapat lebih jika mereka bergabung dengan label ternama. Dalam hal pemilihan lagu, jenis yang dihasilkan, oleh para musisi indie tidak tergantung dengan apa yang sedang popular pada pasar musik. Meskipun begitu, musik indie tetaplah populer dan pastinya ada komunitas khusus penggemar.

Seiring berkembangnya jaman, internet pun sangatlah membantu para musisi indie untuk berkembang dan mencari pasar mereka. Dengan adanya aplikasi yang menjual dan menyiarkan musik, para musisi indie dipermudah untuk mempublikasikan hasil karya mereka tanpa harus kesulitan melakukan promosi.

Kebanyakan musisi-musisi indie mengawali karir mereka sebagai band, banyak juga yang bergabung dengan label- label besar. Hal ini dapat dikatakan sebagai dilema yang besar bagi seluruh musisi dan band indie yang sedang naik daun. Keuntungan yang didapat oleh musisi indie dapat terlihat pada bagaimana mereka dengan mudah melakukan kolaborasi dengan sesama musisi indie.

Tidak seperti kolaborasi antar label yang memilikibirokrasi yang sulit. Selain itu juga dari segi pendengar, indie pun juga sangat mengapresiasi musisi secara keseluruhan, dimana usaha para musisi indie sangatlah dihargai dengan mendapatkan insentif yang lebih sebagai tanda bahwa pendengar menghargai hasil karya dari musisi tersebut.

Pengaruh indie di Indonesia sendiri belum terasa hinga pada pertengahan tahun 1990an. Pas Band merupakan band yang memulai tradisi merilis album secara indie. Mereka pun sukses menjual album mereka sebanyak 5.000 kopi.

Karena keberhasilan Pas Band, akhirnya banyak band metal dan rock yang mengikuti jejak mereka. Pure Saturday adalah band indie pertama yang membuat album rekamannya sendiri pada tahun 1995. Disusul oleh Mocca yang berhasil menjual album mereka hingga menembus angka di atas 100.000 kopi. Keberhasilan Mocca kemudian membawa dampak pada band-band indie di Indonesia hingga sekarang.

Saat ini, band-band tersebut masih aktif dan terus berkarya. Mereka masih sering tampil di acara-acara lokal, dan juga tidak hanya berkontribusi di panggung tetapi juga di media sosial. Mocca juga menjadi band yang melebarkan sayap di kancah Internasional secara aktif sehingga dikenal oleh bukan hanya masyarakat Indonesia dan saat ini mereka semua juga sudah bergabung bersama major label.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here