George de Fretes: Sang Raja Musik Hawaii dari Bandung yang Tak Punya Pantai

0
87

Satu tahun yang lalu, pada suatu pagi saya membuka folder musik dan menemukan folder bernama George de Fretes. Entah sejak kapan folder itu ada di sana, dan dari mana saya mendapatkannya. Sempat melintas sebuah pertanyaan, siapa itu George de Fretes? Mungkin ia berasal dari Indonesia, karena namanya mengingatkan saya dengan tokoh Boim yang diperankan oleh Harry de Fretes di Lenong Rumpi.

Sambil memikirkan jawabannya, saya memindahan folder ke dalam software pemutar musik dan membiarkan alunan lagu Hawaii mengisi kamar saya. Setelah itu saya membaca Animal Farm karya George Orwell hingga perlahan saya melupakan pertanyaan itu.

Pagi kemarin, satu tahun telah lewat begitu saja, dan selama itu saya sudah benar-benar tidak memikirkan George de Fretes hingga saya menemukan lagi novel Animal Farm di atas meja belajar. Novel itu mengingatkan saya lagi dengan pertanyaan yang sempat singgah di dalam kepala, “Siapakah itu George de Fretes?” Untuk menjawabnya, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari informasinya di mesin pencari Google.

Dalam 0.14 detik, mesin pencari itu memberi saya 283.000 website yang berkaitan dengan George de Fretes. Yang mengejutkan adalah, di halaman awal mesin pencari tak satupun ada artikel berbahasa Indonesia. Saya cukup kaget karena sebelumnya saya yakin George de Fretes berasal dari Indonesia dan wikipedia yang muncul di pencarian teratas adalah wikipedia Belanda.

Ya, bisa saja George de Fretes adalah orang Belanda. Sangat mungkin. Lalu saya mengklik kanan dan membuka tab baru untuk wikipedia, sementara jemari saya terus menjelajahi hasil mesin pencari. Hanya iseng.

Dari halaman kedua hingga kelima mesin pencari tak satupun artikel Indonesia yang membahas George de Fretes, hanya muncul website untuk mengunduh lagu-lagunya dan namanya berafiliasi dengan Tielman Brothers. Akhirnya saya membuka beberapa artikel yang kebanyakan berbahasa Belanda dan Inggris. Lalu, saya mulai membaca wikipedia berbahasa Belanda.

Karena saya tidak bisa berbahasa belanda, maka saya menggunakan mesin penerjemah Google untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia untuk mendapatkan informasi mengenai George de Fretes.

Meski hasil terjemahannya sangat berantakan, minimal saya mengerti. Saya tidak akan menampilkan hasil terjemahan yang carut-marut, ini hanya kesimpulan ugal-ugalan yang saya buat berdasar dari berbagai sumber yang saya temui di beberapa situs yang berkaitan dengan George de Fretes.

George de Fretes adalah lelaki kelahiran Bandung pada tanggal 23 Desember 1921. Lahir dari pernikahan KNIL (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau secara harafiah: Tentara Kerajaan Hindia-Belanda.) bernama Anton Balthasar de Fretes dan Tersemas Carolina.

George kecil suka bermain musik dengan botol berisi air dan dipukul dengan besi, mendengarkan radio, dan rekamanSol Hoopii dan Andy Iona. Dari rekaman itulah ia belajar sendiri bermain ukulele, sebuah alat kecil yan kelak mempertemukannya dengan steel-guitar, alat musik yang menjadikannya bak Raja Hawaii.

Usia sembilan tahun, ia mulai bermain steel-guitar. Dan di usia empat belas tahun, ia memenangkan Hawaiian Little Boys, sebuah kompetisi Hawaii di Batavia (sekarang Jakarta) namun karena usianya masih empat belas tahun ia tak mendapatkan hadiah utama.

Saat usianya menyentuh enam belas, pada tahun 1938, ia membentuk The Royal Hawaiian Quintet, yang menjadi The Royal Hawaiian Minstrels satu tahun kemudian. Bersama band ini di tahun 1938 ia terpilih untuk acara lain di Surabaya bertajuk “Champion of the Archipelago.”

Di Hindia Belanda, Royal Hawaiian Minstrels adalah band yang banyak diminta untuk tampil dan dibayar paling mahal hingga pecahnya Perang Dunia Kedua. Selama perang, saat pendudukan Jepang, musik Amerika dan Hawaii dilarang. Royal Hawaiian Minstrels mengubah nama menjadi Suara Istana dan bermain musik kroncong.

Putrinya, Elvira Carolina (Wanda) lahir pada tanggal 8 Januari 1946. Ketika putrinya berusia 5 tahun George de Fretes merekam lagu Pretty Baby di sebuah studio di Batavia. Lagu lainnya Broken Promise, dinyanyikan oleh George sendiri. Tahun 1952, setelah bercerai, Joyce Aubrey (istri George) membawa putrinya ke Belanda. Dia adalah seorang penyanyi dengan The Mena Moeria Minstrels (Amboina Serenaders) yang dilakukan oleh Rudi Wairata.

Di tahun 1958, George menjadi penumpang gelap di kapal MS Johan van Barneveld, Belanda. Setelah penahanan singkat di Doetinchem, ia menetap di Den Haag. Ia mendapat kontrak rekaman dengan Jan de Winter dan kembali mengarahkan Royal Hawaiian Minstrels (Hawaiian Music) dan Suara Istana (Kroncong).

Mantan istrinya Joyce Aubrey dan suami barunya Fred Hoogduin juga ikut menjadi pemain di Royal Hawaiian Minstrels bersama Bill Toma (vokal / gitar) dan Eddie Scipio Blume (ukulele). Putrinya Wanda secara teratur mengikuti pertunjukan sebagai penari Hawaii dan penyanyi.

Bersama The Royal Hawaii bersama dengan seniman lain, pada tahun 1963  membuat tur di klub-klub Amerika yang berada di Belanda. Tur ini bertajuk Honolulu Holiday Show. Kemudian, pada tahun 1964, George berangkat ke Amerika. Ia sempat menetap selama setengah tahun di Hawaii dan bermain dengan musisi lokal.

Di tahun 1966 ia melakukan tur dengan Tielman Brothers ke Jerman, Swiss dan Skandinavia. Dia juga membuat tahun LP dengan orkestra Frank Valdor sebelum pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1969. George de Fretes menetap di Los Angels dan meninggal tanggal 19 November tahun 1981, ia dikuburkan di sebelah idolanya Sol Hoopi.

George de Fretes adalah seorang musisi jenius. Dia menulis puluhan lagu, dan memainkan banyak instrument, seperti: terompet, saksofon, gitar, biola. Pekerjaannya di dunia musik menghasilkan tidak kurang dari 65 piringan hitam. George de Fretes juga dianggap sebagai eksponen utama dari gaya Hawaii-Krontjong.

Begitulah, saya kira sangat tidak adil jika George de Fretes hanya melulu dikaitkan dengan Belanda. Publik Indonesia berhak pula tahu. Siapa tahu, kemudian ada yang terinspirasi dari kisahnya atau sekadar untuk menambah pengetahuan.

Ya, meski tulisan ini sangat jauh dari lengkap karena keterbatasan pengetahuan saya. Mungkin kelak akan ada yang membuat tulisan yang lebih rinci mengenai George de Fretes, dan akan ada yang bersedia mengarsipkannya di wikipedia Indonesia. Hanya sebagai pengingat pun tak apa, sebab konon publik kekinian mudah lupa.

Semalam saya bermimpi tentang pantai, botol-botol bir, dan seorang kekasih. Kami duduk di atas pasir, memandangi laut dengan kapal-kapal nelayan terapung tanpa berkata apa-apa. Di belakang kami mengalun sebuah lagu, lagu tentang memori, kesepian, pesta, dan patah hati yang dirayakan.

“Katanya, makhluk hidup itu berasal dari laut,” ujar kekasih saya.

“Yah, bisa jadi,” jawab saya. “Mungkin karena itu ketika kita memandang laut, kita merasa tenang. Rasanya seperti… pulang, barangkali.”

“Mungkin seperti itu.”

Tak ada lagi percakapan di antara kami hingga kami terbangun. Dari luar kamar terdengar sayup sebuah lagu dari televisi. Tak ada wangi angin di televisi, tak ada bau garam laut, tembang rock ‘n roll lawas, pasir hangat, gemuruh ombak, celoteh camar, dan tak ada George de Fretes.

Barangkali ia pun telah lenyap di dalam kepala generasi baru, yang baru membuat single dan tampil live di televisi dengan mulut mangap-mangap mensingkronisasikan gerak bibir dibarengi lagu yang diputar melalui player, tapi sudah berani mengklaim dirinya ‘memajukkan musik tanah air’. Ironi.

Saya tidak akan membahas soal ‘musisi-musisi’ itu, mengutip Nietzsche di Sabda Zarathustra halaman 161-162: Jangan sekali -kali berurusan dengan pengemis! Sesungguhnya, memberi kepada mereka hanya akan membawa kejengkelan semata, dan tidak memberi pun tetap akan membawa kejengkelan.

Saya memutuskan untuk tidak berurusan dengan acara musik pagi di televisi, sejengkel apapun, karena, toh, berurusan atau tidak tetap saja membuat jengkel. Sayahanya ingin bilang, George de Fretes dan lagunya bisa menghiburmu tanpa harus menyesakkan isi kepalamu dengan omong kosong, dan menambah kejengkelan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here