Eka Annash Bicara Soal Reuni Waiting Room

0
70

Kabar gembira kembali hadir buat kalian yang ingin mengenang masa-masa 90-an, setelah sebelumnya ada Rumah Sakit di penghujung tahun lalu. Hanya berselang setahun kurang, dari beberapa hari pasca band indie pop tersebut menggelar konser reuni sekaligus launching albumnya (1+2).

Kini telinga kalian kembali dimanjakan oleh band bergenre ska campur punk kasar ala Fugazi-nya Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Waiting Room, band ini ternyata melahirkan nama-nama pelaku skena musik indie kawakan dari Jakarta semisal Eka Annash (The Brandals) dan Lukman “Buluk” Laksmana (Superlad) ini bakal menggelar reuni untuk kedua kalinya.

Terbentuk dari sekumpulan teman-teman semasa SMA kala itu tahun 1994 berpesonilkan Eka, Irfan, Buluk, Ibob,  Albert, dan Icen. Waiting Room sendiri sudah melahirkan tiga album, sebelum akhirnya memutuskan untuk bubar di tahun 2000-an. Sang vokalis Eka Annash berbagi cerita kepada Indie Jakarta soal reuni tersebut yang bakal diadakan pada bulan desember mendatang di Rolling Stone Café, Jakarta. Berikut cuplikannya :

Bisa diceritain soal reuni waiting room kali ini?

Sebenernya dulu tahun 2006 sempat manggung bareng sekali untuk acara TrusikTraxustik tapi tidak tergarap dengan serius dan jadi agak anti klimaks. Waktu itu juga kita kebanyakan mainin set ska/reggae dari album debut. Untuk yang sekarang awal mulanya dari sekitar tahun 2009/2010, dimulai dari beberapa DJ lokal yang sering muter lagu Satu Dunia dari album Propaganda. Kebanyakan dari mereka tanya apakah masih punya materi lagu lain untuk di remix. Tapi gue aja sendiri ngga punya album nya. Terus ada beberapa temen dari komunitas skinhead yang tanya album debut (buaya ska) tapi lagi-lagi gue sendiri ngga punya materi fisiknya. Akhirnya sempat nawarin ke Demajors untuk remaster dan rilis ulang album dan ternyata mereka tertarik. Dari titik ini mulai disusun rencana untuk reuni sekaligus mendukung program promosi albumnya nanti kalo jadi dirilis. Gw mulai kontak Irfan (gitar) yang kebetulan memang manajer bisnis The Brandals. Terus satu per satu gue kontak personil lain dan semuanya ternyata setuju untuk main bareng lagi.

Kenapa bisa kepikiran bisa ngadain reuni lagi?

Seperti yang gue jelasin sebelumnya, tadinya untuk mengakomodir program promosi album remaster yang akan dirilis. Tapi ternyata setelah baru latihan sekali, masih kuat chemistry nya. Kayaknya semua juga udah kangen untuk main musik lagi. Akhirnya diterusin sekalian. Yang penting masih menyenangkan untuk dilakukan. Kalo latihan pertama udah ngga enak, kita pasti ngga bakalan nerusin. Awalnya agak ragu-ragu juga. Gimana kalo ternyata latihan pertama basi dan flat. Ternyata masih nyetrum. Ya udah, di gas sekalian.

Oke, soal Waiting Room sendiri, gimana sih ceritanya bisa kebentuk dan siapa yang memberikan nama itu?

Waiting Room awalnya terbentuk di tahun 94. Peleburan dua band antara gue, Irfan, Ibob (bas) dan Albert (gitar) dan Icen (drum). Semuanya pelajar SMA di daerah Jakpus. Gue SMA 68 Salemba, Irfan+Ibob+Albert SMA 27 Mardani, dan Icen SMA 30 Rawasari. Gue dari SMA fans berat Fugazi dan ngusulin untuk nge-cover lagu-lagu mereka. Terus kita mau coba studio baru di daerah Kayu Manis namanya Bee Sound punya si Buluk. Latihan pertama kali disana dan kenalan sama dia. Dulu Buluk punya band sendiri namanya The Slides, sedangkan kita belum dapat nama band. Kita manggung bareng di acara anak Gunadharma di salah satu cafe di Margonda. Waktu lagi main lagu Waiting Room tiba-tiba aja si Buluk ikutan nyanyi. Kelar manggung panitia nya tanya ke Buluk nama band nya apa. Dia kontan ngejawab Waiting Room karena itu satu-satunya lagu Fugazi yang dia tau. Akhirnya jadilah nama band. and the name stuck until now.

Waiting room itu adalah band ska dan punk, kok bisa?

Ya bisalah. namanya progres. Perubahan. Lo ngga mau pake baju yang sama tiap hari kan?

Soal band ini sendiri katanya merupakan band yang mengikuti trend musik pada zaman itu, apa benar?

Yang gue tau, waktu kita rilis album debut di tahun 1997, musik Ska belum jadi trend. Begitupun ketika cover Fugazi. Setau gue belum ada band di Jakarta yang bawain Fugazi di panggung tahun 1994. Jadi siapapun yang bilang Waiting Room mengikuti trend pasti anak ABG ingusan baru ‘melek’ di Jakarta.

Dan elo adalah orang yang membawa trend itu ke band ini?

Gue membawa perubahan dan progresm, bukan trend.Trend itu pola behaviour sosial & kultur dalam masyarakat yang dikemas menjadi komoditi hiburan oleh media. Gue sama sekali ngga ada niat untuk jadi inisiator. Apalagi bikin trend. Gue berubah karena ingin lebih baik. Yang gue rubah diri gue sendiri dulu, kalo lingkungan sekeliling terpengaruh ikut berubah berarti itu bonus.

Sedikit menerawang kebelakang, pernah ada kejadian sempat diobrak-abrik sama rekan band ska indie era poster cafe dulu, itu gimana ceritanya?

Ini juga ulah media, dulu sempat diwawancara sama salah satu majalah remaja dan apa yang direkam saat interview dengan yang di cetak di majalah bertolak belakang. Benar-benar dimodifikasi dan dimanipulasi sampai jadi salah. Kita bilang Waiting Room adalah kemungkinan band ska pertama yang merilis album di Jakarta. Tapi yang tercetak adalah Waiting Room band ska pertama di Jakarta. Tulisan ini langsung menuai protes komunitas skinhead lokal dan berujung ke penyerangan saat kita manggung di Poster Cafe. Tapi kita langsung konsolidasi dan akhirnya damai.

Nah, kalau persoalan aksi bugil yang dilakukan oleh Buluk gimana pendapat elo?

Buluk itu sex maniak. Bugil itu adalah salah satu pelepasan nya. Seperti halnya lo suka musik dan main di panggung adalah pelepasannya. Sesimpel itu (Tersenyum meledek)

Siapa yang memiliki peran aktif dalam sektor lirik waiting room dari album awal sampai akhir?

Album pertama gue yang tulis semua lirik. Di album kedua (Propaganda 2000) dan ketiga-pun (Music 2002) gue yang menulis lirik di beberapa single utama-nya (Satu Dunia, Langkah Akhir) walaupun cuma sebagai personil additional statusnya.

Balik lagi ke reuni tadi, apakah ini hanya reuni biasa aja atau mungkin ada tanda bakalan ada ’sesuatu’ yang baru dari kalian? Album atau single mungkin?

Belum ada yang tau rencana ke depan. Yang jelas plan sekarang adalah konsen untuk acara reuni dan perilisan ulang debut album.

Apakah setelah konser reunian besok, waiting room akan manggung dengan setlist lagu dari album sendiri?

Untuk panggung reuni pertama kita akan tampil membawakan konsep Tribute To Fugazi. Kembali ke era awal kita terbentuk.

Terakhir, pendapat elo sendiri soal skena musik indie di zaman-zaman elo masih di waiting room kayak gimana sih?

Yang jelas dulu untuk melakukan operasional buat band independent itu susah banget. Belum ada home recording, internet, indie label,belum ada blog/ fanzine, facebook, myspace, twitter, jaringan event organizer masih jarang, dll. Untuk bisa eksis lo harus bener-bener punya bakat dan punya tekad. Berbahagialah musisi sekarang karena semuanya sudah serba mudah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here